Dermatosis akibat kerja adalah semuamasalah kulit yang muncul pada waktu bekerja atau disebabkan oleh pakerjaan. Istilah dermatosis lebih tepat dari pada dermatitis, sebab kelainan kulit akibat kerja tidak usah suatu peradangan, melaingkan juga tumor atau alergi . Persentasi dermatosisyang di sebabkan oleh pekerjaan  sekitar 50 – 60% maka dari itu penyakit tersebut perlu mendapat perhatian yang cukup.

Menegakkan suatu diagnosa penyakit akibat kerja tidaklah mudah . Lebih-lebih untuk keadaan dinegara kita, dimana dermatoses umum sangatlah banyak. Untuk itu haruslah di ikuti cara diagnosa penyakit-penyakit akibat kerja pada umumnya . Haruslah terang kapan tepatnya dermatoses itu dimulai . Untuk tahu persis kapan dermatoses itu mulai perlu adanya data pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan pemeriksaan kesehatan berkala.

Selanjutnya perlu pengetahuan tentang lingkungan kerja si penderita , apakah benar penyebab penyakit itu berada dalam lingkungan. Bila ada bagaimana keteranganya tentang cara penyebab itu menimbulkan penyakit tersebut, apakah secara imfeksi, apakah perangsangan primer atukah pemekaan . Pertanyaan ini dapat dijawab dengan memperhatikan penyebab-penyebab yang ada dalam lingkungan kerja dan dengan uji laboratorium ataupun klinis .

Sangatlah penting diketahui ialah  “patch test” yang dapat memastikan bahan-bahan yang bekerja sebagai pemekat terhadap si pekerja. Satu cara uji sederhana , apakah dermatosis itu akibat kerja atau tidak , ialah memberikan cuti beberapa hari kepada penderita: apabila penyakit itu bersumber pada pekerjaan, biasanya oleh cuti demikian dermatosis menjadi kurang bahkan menjadi baik sama sekali.

Patch test adalah cara uji klinis untuk menentukan apakah suatu bahan kimia bersifat sensitizer atau tidak . Terdapat banyak cara untuk melakukan pacth test tersebut.Patch test dapat digunakan sebagai alat diagnostic atupun prefentif. Sebagai alat diagnostic, bahan dalam konsentrasi sangat rendah dibiarkan kontak dengan kulit dan ditutup dengan plester atau gasverban dan plester. Bila penderita peka , timbullah tanda kelainan kulit .

Sebagai bahan preventif dimaksukkan untuk menguji suatu bahan yang akan diproduksi oleh suatu industri , apakah bahan itu bersifat sensisiter atau tidak . Cara ini populer dalam perusahaan yang menghasilkan bahan – bahan pakaian sintetis. Untuk maksud tersebut bahan dalam kadar rendah di biarkan kontak dengan kulit dan ditutup dengan plester kira-kira 5 hari, lalu plesternya dibuka dan bahanya di bersihkan sekali, biarkan dahulu untuk waktu 10 hari. Kemudian bahan yang sama dikontakkan pula dikulit , bila reaksi timbul , berarti bahan itu sensitizer dan biasanya tidak di jual kepada umum.

Seperti dinyatakan diatas pacth test preventif ini sangat penting untuk menentukan apakah bahan pakaian dapat atau tidaknya di pakai oleh umum di tinjau dari sudut sensitisasi .

Suatu missal bahwa diagnosa dermatosis akibat kerja kadang-kadang sulit , ialah membedakan apakah kelainan kulit ditangan , dermatosis akibat kerja atuakah reaksi dermatophytide , yaitu reaksi alergis terhadap imfeksi jamur kronis, yang biasanya tempat imfeksi di sela-sela jari kaki. Untuk itu harus dilakukan uji-uji klinis tertentu.

Demikian pula faktor psychis kadang-kadang menyulitkan , bahwa kelainan kulit itu adalah dermatosis akibat kerja ataukah suatu kelainan latar belakangnya penyakit psysomatik. Untuk keperluan itu perlu nasehat keahlian dari seorang psychiater.

Related posts:

  1. Kebiasaan Merokok Dalam Rumah Berpengaruh Dengan Penyakit ISPA pada Balita Merokok adalah suatu  kebiasaan yang sering kita lihat di dalam...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.